micro teaching english PGSD UMS 2012/2013 (pra UTS)

micro teaching english atau sering kita sebut micro english ini merupakan momok kedua setelah micro teaching (indonesia). karena dalam micro english ini kita dtuntut mengajar dengan menggunakan bahasa inggris di semua aspek mengajar.

baru menjalani setengah semester ini, rasanya sudah seperti .. hmh.. sulit untuk di ucap dalam kata-kata..

ada rasa senang, sedih, dag-dig-dug saat mau maju,, dan kekonyolan teman-teman saat micro eng memberikan warna tersendiri.. yang mungkin tidak akan mudah begitu saja terlupakan..

barcode micro english ini ada lho.. awalnya sih ragu untuk menyebutkan ini,, mungkin lebih tepatnya barcode micro english with Mr. Suparlan :D… “NO OKE!!!!”,, hahaha.. semua langsung tatkala mengucap kata “OKE” saat micro eng. ntah kenapa, Mr. Parlan regret with it. dan ketika ada mahasiswa yang kelupaan tanpa sengaja menyebutkan kata itu, langsung spontan tingkahnya pada aneh kebingungan gitu deh… seru pokoknya.. :D

nah, di sini ada file Lesson Plan about RAISE YOUR HAND yang merupakan lesson plan yang saya buat untuk maju micro eng.

untuk bisa mengunduh file ini, silahkan klik di sini, atau jika mau mau download juga file media pembelajaran Raise your hand dalam bentuk PPT, kamu dapat klik di sini…lalu pilih data yang kamu inginkan :)

makasih sudah mampir ya :)

KAJIAN KURIKULUM IPA SD

KAJIAN KURIKULUM IPA
SD N 1 LALUNG KARANGANYAR
Disusun guna memenuhi tugas Pengembangan Pendidikan IPA
Dosen pengampu : Novilia Susianawati

Disusun Oleh Kelompok 3:
1. Risa Kiranasari A510100121
2. Ratna Dwi P A510100124
3. Agung Nugroho A510100142

PROGDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu komponen penting dari sistem pendidikan adalah kurikulum karena kurikulum merupakan komponen yang dijadikan acuan oleh setiap satuan pendidikan. Sedangkan pembelajaran terkait dengan tujuan dan rencana kurikulum, yang difokuskan pada persoalan metodologi, seperti teknik mengajar, kegiatan implementasi sumber, dan alat pengukuran yang digunkaan dalam situasi belajar-mengajar yang khusus. Jadi, perencanaan kurikulum adalah suatu konsep generik yang meliputi perencanaan kurikulum dan desain instruksional.
Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum KTSP yang dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi sekolah, karakter sekolah, sosial budaya masyarakat setempat dan karakter peserta didik. KTSP disusun, dikembangkan dan dilaksanakan satuan pendidikan yang sudah siap dan mampu mengembangkannya dengan memperhatikan UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 36 ayat 1 dan 2.
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pembelajaran IPA dilaksanakan secara inqury ilmiah, untuk menumbuhkan kemampuan berpikir bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikanya sebagai kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan ketrampilan proses dan sikap ilmiah.
SD Negeri Lalung 1 Karanganyar adalah salah satu satuan pendidikan yang ada di Kecamatan Karanganyar yang memiliki karakteristik tersendiri. Karakatersitik SD ini adalah daerah pertanian, industri, dan pariwisata. Dengan karakteristik tersebut, maka SD tersebut mampukah mengembangkan kurikulum yang ada.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah profil sekolah SD Negeri 01 Lalung Karanganyar secara singkat?
2. Kurikulum apa yang digunakan di SD Negeri 01 Lalung Karanganyar?
3. Bagaimanakah Substansi, cakupan serta penataan dari Kurikulum yang digunakan SD Negeri 01 Lalung Karanganyar?
4. Apa sajakah buku pelajaran (text book) yang digunakan untuk menunjang pembelajaran IPA kelas VI?
5. Bagaimanakah relevansi kurikulum dengan text book yang digunakan di SD Negeri 01 Lalung Karanganyar?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan Penulisan Laporan Observasi ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui kurikulum apa yang digunakan pada SD tersebut
2. Mengetahui subtansi, cakupan, dan aspek penataan dari kurikulum yang digunakan di SD tersebut
3. Mengetahui text book IPA kelas IV yang digunakaan di SD tersebut
4. Mengetahui relevansi antara kurilum dengan text book IPA di SD tersebut
D. Manfaat Penulisan
1. Dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai kurikulum secara nyata
2. Dapat memberikan gambaran tentang apa saja yang ada dalam kurikulum SD
3. Dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk menggali lebih dalam mengenai kurikulum dan text book IPA SD pada khususnya
4. Dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi yang membaca

Untuk lebih lengkapnya silahkan download di sini.

Kajian Lintas Budaya antara Masyarakat Wonogiri dan NTB

LAPORAN PENELITIAN
Kajian Lintas Budaya Antara Masyarakat
Wonogiri dan Nusa Tenggara Barat
Disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Kajian Lintas Budaya
Dosen Pengampu: Nur Amalia, M. Teach

Kelompok 7:
1. Ita Tri Nur’aini A 510100118
2. Ratna Dwi Pamilih A 510100124
3. Eko Margianto A 510100139
4. Dwi Astuti Indrirahayu A 510100144

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Kebudayaan dan masyarakat adalah ibarat dia sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, keilmuan, sosial, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lain serta kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan yang khusus yang terdapat pada suatu golongan dalam masyarakat yang berbeda dengan kebudayaan golongan masyarakat lain maupun kebudayaan seluruh masyarakat mengenai bagian yang tidak pokok dinamakan kebudayaan khusus misalnya kebudayaan daerah Aceh, Batak, Jawa, Nusa Tenggara, dan lain-lain. Kebudayaan khusus ini timbul antara lain perbedaan lingkungan, suku, bangsa, agama, latar belakang pendidikan, profesi, dan sebagainya.
Dalam sebuah kebudayaan terdapat unsur-unsur pokok yang disebut juga dengan culture universal. Hal ini menunjukkan bahwa unsur-unsur kebudayaan bersifat universal artinya dapat dijumpai di setiap kebudayaan yang ada di seluruh Indonesia. Culture universal tersebut misalnya mata pencaharian, sistem kemasyarkatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan.
Budaya daerah dapat dilihat dari delapan aspek yaitu aspek Bahasa, Sikap dalam Pendidikan, Peran Wanita, Hubungan Personal, Tata Krama (Kebiasaan) Sehari-hari, Nilai-nilai dalam Dunia Kerja atau Pendidikan, dan Kebebasan Pribadi (Privasi). Dari banyaknya ragam budaya Indonesia itulah, kami melakukan kajian lintas budaya dengan mengkaji Bahasa, Peran Wanita, Tata Krama (Kebiasaan), dan Nilai-Nilai Dalam Keluarga. Sehingga dengan adanya kajian lintas budaya ini kita dapat mengetahui bagaimana perbedaan antar budaya daerah satu dengan budaya di daerah lainnya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana budaya yang ada di daerah Wonogiri (Jawa Tengah) ?
2. Bagaimana budaya masyarakat daerah Wonogiri ditinjau dari Bahasa, Peran Wanita, Tata Krama (Kebiasaan), dan Nilai-Nilai Dalam Keluarga?
3. Bagaimana budaya yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat ?
4. Bagaimana budaya masyarakat daerah Nusa Tenggara Barat ditinjau dari Bahasa, Peran Wanita, Tata Krama (Kebiasaan), dan Nilai-Nilai Dalam Keluarga?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui budaya yang ada di daerah Wonogiri (Jawa Tengah).
2. Untuk mengetahui budaya masyarakat daerah Wonogiri ditinjau dari Bahasa, Peran Wanita, Tata Krama (Kebiasaan), dan Nilai-Nilai Dalam Keluarga.
3. Untuk mengetahui budaya yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat.
4. Untuk mengetahui budaya masyarakat daerah Nusa Tenggara Barat ditinjau dari Bahasa, Peran Wanita, Tata Krama (Kebiasaan), dan Nilai-Nilai Dalam Keluarga?

D. MANFAAT
1. Dapat menambah wawasan kita tentang kebudayaan yang ada di wilayah Indonesia
2. Dapat menambah rasa cinta terhadap budaya daerah
3. Dapat menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan antar daerah di Indonesia


BAB II
ISI

A. BAHASA
Bahasa adalah sebagai alat komunikasi, atau sarana untuk menyampaikan informasi. Tetapi, bahasa pada dasarnya lebih dari sekadar alat untuk menyampaikan informasi, atau mengutarakan pikiran, perasaan, atau gagasan
1. Wonogiri
Kebiasaan masyarakat saat berpapasan dengan seseorang yang dikenal yaitu:
Menyapa lebih dahulu : 20%
Kadang menyapa dahulu : 60%
Menunggu untuk disapa : 20%
Pada saat bertemu dengan seseorang yang dikenal biasanya menggunakan kata “hey” dan “hello” untuk teman sebaya atau teman yang dikenal. Sedangkan untuk menyapa orang yang lebih tua ataupun orang yang mempunyai jabatan penting yaitu bisa dengan “Pak”, “Bu”, “Mbak”, “Mas”, dan lain-lain agar dapat terlihat sopan dan santun dalam berbincang-bincang.
Untuk masyarakat Wonogiri kebiasaan menyapa pada saat bertemu dengan orang yang dikenal tidak berdasarkan usia ataupun kesenioritasannya namun biasanya kebiasaan menyapa ini bersifat fleksible. Masyarakat Wonogiri pada umumnya sering berbasa-basi dalam perkataan mereka apabila bertemu dengan seseorang yang dikenal maupun belum kenal. Hal ini dikarenakan agar nantinya dapat akrab dengan orang tersebut selain itu dengan kita basa-basi saat berbincang-bincang kita dapat terlihat sopan.
Pemberian nama untuk anak-anak jaman sekarang sudah sangat bervariasi sekali, tidak seperti jaman dahulu yang hanya menggunakan dua bahkan satu kata saja dalam memberikan nama untuk anak mereka. Namun jaman sekarang pemberian nama juga mengambil nama-nama asing untuk mepercantik nama. Hasil survei yang kami peroleh di daerah ini yaitu:
 Sedikit menggunakan bahasa asing : 20%
 Menggunakan bahasa asing : 80%
 Tidak menggunakan bahasa asing : -
Di daerah ini tidak ada pergeseran makna bahasa asli jadi masih menggunakan bahasa yang biasanya digunakan oleh orang-orang sebelumnya, terbukti di daerah ini masih sangat melestarikan bahasa daerahnya dengan menggunakan bahasa daerah sehari-hari bahkan menggunakan bahasa krama untuk daerah-daerah tetentu.

2. Nusa Tenggara Barat
Kebiasaan masyarakat NTB saat berpapasan dengan seseorang yang dikenal yaitu semuanya menyapa terlebih dahulu, karena kebanyakan dari mereka memang kenal dengan orang disapa, jadi saat bertemu mereka akan langsung menyapa terlebih dahulu tanpa, menunggu orang lain yang menyapa. Ada juga yang menyapa terlebih dahulu, karena sudah menjadi kebiasaan basa – basi saat bertemu dengan orang yang dikenal.
Pada saat bertemu dengan orang yang dikenal biasanya mereka memanggil nama, tersenyum dan juga menanyakan kabar dengan bahasa daerah disana, seperti:
a. Mbe laiq tie meton? (mau kemana kawan?)
b. mbe epe aning? (sama tapi lebih sopan)
c. Mbe de lumbar mamiq? (sama tapi paling halus)
Sementara untuk menyapa yang lebih tua biasanya hanya tersenyum dan mengucapkan salam. Selain itu basa basi juga diperlukan apabila bertemu dengan orang lain atau orang yang dikenal, karena mereka menganggap itu untuk mempererat tali silaturahmi dan agar lebih sopan.
Sementara kebiasaan masyarakat NTB dalam menyapa:
• 40% menyapa, tidak bergantung pada usia dan kesenioritasannya, jadi siapapun yang dikenal akan disapa.
• 40% menyapa beragantung pada usia dan kesenioritasannya, jadi pada saat menyapa lebih terlihat sopan dan agar terlihat hormat dengan yang lebih tua.
• 20% menyapa belum tentu bergantung pada usia, dan kesenioritasannya.
Pemberian nama pada anak untuk masyarakat NTB sudah sangat bervariasi, karena masyarakat disana dalam membeeikan nama pada anak tidak hanya menggunakan bahasa daerah, melainkan sudah tercampur dengan bahasa Indonesia, dan bahasa asing.
• Pemberian nama dengan sedikit menggunakan bahasa asing 60 %
• Pemberian nama dengan menggunakan bahasa asing 20 %
• Tidak menggunakan bahasa asing 20 %
Jadi pemberian nama anak pada masyarakat tersebut masih banyak yang menggunakan bahasa daerah disana. Sehingga tidak akan melunturkan kebudayaan mereka.
Pemakaian gaya dan bentuk bahasa dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda-beda juga berbeda. Apabila dengan teman dekat menggunakan bahasa daerah dan bahasa gaul mereka, dengan orang tua menggunakan bahasa daerah yang sopan atau bahsa Indonesia. Sedangkan untuk orang yang memiliki jabatan penting, menggunakan bahsa daerah NTB dan juga bahasa Indonesia. Walaupun masih banyak yang menggunakan bahsa daerah, namun tetap ada pergeseran makna terhadap istilah – istilah bahasa.

B. PERAN WANITA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Peran seorang ibu dalam rumah tangga sangat penting. Bukan sekedar seperti perkataan orang jaman dahulu yaitu macak, masak, manak yang artinya seorang wanita jaman dahulu itu hanya dianggap seorang yang hanya bisa berdandan, memasak di dapur, dan melahirkan. Namun persepsi sepertiitu saudah tidak ada pada jaman sekarang. Karena wanita itu adalah seorang yang bisa mengerti semua kebutuhan keluarga mulai dari memanajemen waktu anak, mengatur keuangan, mengontrol dan menjaga kesehatan, psikologi anak, dan lain-lain.
1. Wonogiri
Di daerah Wonogiri persepsi orang-orang jaman dahulu tentang wanita yang hanya bisa macak, masak, dan manak sudah sangat ditinggalkan karena menurut hasil survei yang kami peroleh dari 100% responden mengatakan bahwa 60% wanita sangat berperan dan 40% cukup berperan. Peranan wanita dalam keluarga sangat bermacam-macam yaitu dapat berperan sebagai pengurus rumah tangga, dapat mengerti dan memahami anggota keluarga, serta ada juga yang berperan sebagai pencari nafkah. Selain sebagai pengurus rumah tangga dan pencari nafkah, wanita juga mempunyai suatu komunitas dengan kegiatan-kegiatan yang biasanya terdapat di daerahnya misalnya mengikuti PKK, posyandu anak, posyandu lansia, arisan, dan pengajian. Hal ini dilakukan karena dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut wanita dapat bersosialisasi dengan warga masyarakat dan nantinya wanita tersebut tidak akan ketinggalan jaman.
Perubahan jaman menuntut para wanita untuk dapat ikut membantu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan rata-rata mereka menjadi:
Pegawai Negeri Sipil 20%
Swasta 20%
Ibu Rumah Tangga 60%
Berdasarkan hasil survei yang kami peroleh, wanita di daerah wonogiri sebagian besar tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan adapula yang lulusan sarjana.

2. Nusa Tenggara Barat
Seorang wanita di wilayah NTB mempunyai peran yang cukup tinggi, berdasarkan hasil survey wanita di NTB 60% wanita cukup berperan di rumah. Peranan wanita dalam keluarga sangat bermacam-macam yaitu dapat berperan sebagai pengurus rumah tangga, dapat mengerti dan memahami anggota keluarga, serta ada juga yang berperan sebagai pencari nafkah. Selain sebagai pengurus rumah tangga dan pencari nafkah. Namun peran terbesar mereka adalah mengurus rumah tangga, kemudian yang selanjutnya mengerti dan memahami anggota keluarga.
Untuk pendidikan terakhir wanita (ibu) disana jangan dianggap remeh, karena sebagian besar pendidikan terakhir mereka sebagian besar lulus SMA yaitu sebesar 60 %, sarjan dan tidak bersekolah juga lumayan tinggi sebesar masing – masing 20%. Wanita tidak hanya mengurus rumah tangga, namun juga dapat berinteraksi dengan masyarakat yang lain dengan mendirikan sebuah komunitas untuk sebuah kegiatan, begitu pula dengan wanita di NTB. Kamunitas yang ada bervariasi, seperti posyandu anak, posyandu lansia, PKK, Senam, dan yang lainnya (pengajian).
Perubahan jaman menuntut para wanita untuk dapat ikut membantu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan rata-rata mereka menjadi:
 Pegawai negeri Sipil 40%
 Ibu Rumah tangga 60%
Walaupun tidak sedikit yang menjadi seorang pegawai negeri sipil yang ikut membantu perekonomian keluarga, tapi sebagian besar wanita di sana lebih banyak yang menjadi inu rumah tangga.

C. NILAI – NILAI DALAM KELUARGA
1. Wonogiri
Orang yang dianggap keluarga dan arti keluarga bagi masyarakat Wonogiri yaitu
 Segalanya 100%
 Orang yang memiliki hubungan darah 0%
 Orang-orang yang berperan dalam kehidupan 0%
Jadi, masyarakat Wonogiri pada umumnya menganggap keluarga itu adalah segalanya yang terdiri dari ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek, paman, bibi, semuanya.
Dalam menanggapi perkataan orang tua, berdasarakan hasil survei yang kami lakukan semua responden menjawab selalu menurut dengan perkataan orang tua, namun terkadang juga mengiyakan di depan tetapi menolak hal yang berbeda di belakang dan ada juga yang tidak setuju dan akan menolak perkataan orang tua. Selain itu, orang tua selalu menyemangati anak mereka untuk mencoba mencari pekerjaan. Secara ekonomi anak masih sangat bergantung pada orang tuanya sedangkan untuk pemilihan jodoh dan pendidikan mereka memilih sendiri namun dengan kesepakatan dari orang tua.

2. Nusa Tenggara Barat
Kebiasaan suatu daerah dengan daerah yang lain berbeda-beda, mulai dari kebiasaannya, nilai-nilai dalam dunianya, dan masih banyak lagi. Nilai-nilai dalam keluarga yang ada di daerah Nusa Tenggara Barat ini juga berbeda dengan nilai yang ada di daerah Wonogiri. Masyarakat Nusa Tenggara Barat ini dalam menganggap keluarga mereka sangat beraneka ragam. Berdasarkan hasil survei yang kami lakukan, keluarga adalah segalanya 20%, orang yang memiliki hubungan darah yaitu 20%, dan lainnya menganggap keluarga adalah suatu kelompok yang paling dekat dengan kita.
Orang tua selalu memberi semangat anaknya untuk bekerja karena dengan bekerja dapat membantu meringankan beban oran tua mereka. Selain itu, masyarakat Nusa Tenggara Barat pada umumnya masih sangata bergantung kepada orang tua mereka dari segi ekonominya.
Dalam menentukan pilihan jodoh dan pendidikan, sama seperti msyarakat Wonogiri yaitu mereka memilih sendiri jenjang pendidikan dan jodoh tetapi nantinya perlu pengarahan dari para orang tua.

D. TATA KRAMA DAN KEBIASAAN SEHARI-HARI
Tata krama adalah tata cara atau aturan yang turun temurun yang berkembang dalam suatu budaya masyarakat yang mengatur pergaulan oantar individu maupun kelompokuntuk saling pengertian, hormat-menghormati menurut adat yang berlaku. Tata krama mengandung nilai-nilai yang berlaku pada daerah setempat. Oleh karena itu tata krama suatu daerah yang satu dengan yang lainnya itu berbeda.
1. Wonogiri
Di daerah Wonogiri pada umumnya tidak terlalu banyak terjadi pergeseran adat tata krama dalam komunitas daerah. Sebagian besar menganggap menjaga adat tata krama yang berlaku dengan prosentase 80% menjaga dengan baik dan 20% menjaga tapi sebagian saja. Dalam pemenuhan janji, 40% menganggap janji harus selalu ditepati, 40% ditepati jika ada waktu luang, dan 20% ditepati jika penting saja. Sama seperti daerah-daerah pada umumnya, orang-orang di daerah Wonogiri mempunyai kebiasaan makan 40 % 2 kali sehari dan 60% tidak tentu berapa kali sehari mereka makan.
Mungkin ini yang membedakan masyarakat Wonogiri dibandingkan dengan masyarakat daerah lain, yaitu pada saat makan harus ada makanan wajib yang harus tersedia di meja makan yaitu sambal.

2. Nusa Tenggara Barat
Di daerah ini dalam memiliki dua cara dalam menjaga sebuah adat ataupun tata krama yang pertama yaitu menjaga dengan baik 80% dan yang kedua menjaga namun hanya sebagian saja 20%. Adat istiadat dan tata krama di suatu daerah itu berbeda-beda dan dari adat dan tata krama tersebut biasanya ada yang mengalami pergeseran, menurut hasil survei yang kami lakukan 80% tidak terlalu mengalami pergeseran adat dan tata krama dan 20%menjaga tidak mengalami pergeseran.
Kebiasaaan makan suata daerah itu berbeda-beda sesuai dengan porsi dan kebiasaan mereka, untuk makan mereka biasanya dilakukan 2- 3 kali sehari. Sama dengan daerah lain, pada saat maka mereka 60 sambil bercerita dan 40% diam dan makan dengan tenang.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Kebiasaan dalam menyapa orang yang dikenal masyarakat Wonogiri dengan masyarakat NTB, sedikit berbeda. Untuk masyarakat Wonogiri lebih dominan kadang menyapa terlebih dahulu, sedangkan masyarakat NTB cenderung menyapa terlebih dahulu dengan orang yang dikenal terlebih dahulu. Selain itu dalam menggunakan bahasa masyarat wonogiri lebih fleksibel, sementara mayarakat NTB penggunaan bahasa disesuaikan dengan orang yang sedang berbicara.
Peran wanita di wilayah wonogiri sangat berperan, karena wanita di wonogiri sepenuhnya mengurus rumah tangga, selain itu wanita juga ikut membantu dalam mencari nafkah atau bekerja. Sementara untuk masyarakat NTB cukup berperan, namun pada dasarnya antara masyarakat wonogiri dan masyarakat NTB peran wanita sama – sama penting dan berperan mengurus rumah tangga.
Nilai – nilai dalam keluarga antara masyarakat wonogiri dan masyarakat NTB sama – sama merupakan hal yang penting. Dalam hal pembiayaan hidup maupun sekolah, kedua wilayah ini sama – sama ditanggung sepenuhnya oleh orang tua.
Dalam tata krama Masyarakat wonogiri dan NTB tidak mengalami banyak pergeseran adat dan kebiasaan. Pada saat makan masyarakat Wonogiri harus ada makanan yang ada dimeja makan, yaitu sambal. Berbeda dengan masyarakat NTB yang tidak mengharuskan ada sambal. Selain itu masyarakat Wonogiri saat makan cenderung diam, sementara masyarakat NTB saat makan biasanya sambil bercerita.

B. SARAN
Melakukan sebuah penelitian yang mengkaji tentang dua budaya yang berbeda, hendaknya perlu diperhatikan aspek – aspek yang harus ada, antara lain :
1. Menentukan aspek yang akan dikaji
2. Menetukan objek atau daerah yang akan dikaji, sesuai dengan yang diinginkan.
3. Pembuatan angket berdasarkan pada aspek yang akan dikaji. Sementara model angket yang digubakab juga harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh peneliti.
4. Penyebaran angket dilakukan melalui berbagai media seperti jejaring sosial network, langsung kepada sasaran (orang), wawancara langsung maupun tidak langsung,
5. Perbandingan dua wilayah kebudayaan yang berbeda disajikan dalam bentuk prosentase, sehingga perbedaanya dapat terlihat jelas dan memudahkan pembaca mengetahui perbedaannya.
6. Hasil laporan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel serta analisis data.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Hartono. 2001. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Nella Hutasoit. 2012. “Pengertian Bahsa”. http://nellahutasoit.wordpress.com/2012/04/22/pengertian-bahasa/. Diakses pada hari Kamis, 11 Oktober 2012 pukul 15.15 WIB

Eko Prabowo. 2011. “Tata karma”. http://pekoprabowo.blogspot.com/2011/03/tata-krama.html . Diakses pada hari Kamis, 11 Oktober 2012 pukul 15.15 WIB

Analisis Kurikulum IPA SD Negeri II Banyuanyar, Boyolali, Surakarta

ANALISIS KAJIAN KURIKULUM
SDN BANYUANYAR II
Disusun guna memenuhi tugas Pengembangan Pendidikan IPA
Dosen pengampu : Novilia Susianawati

Disusun Oleh Kelompok 3:
1. Malika Dian A510100103
2. Risa Kiranasari A510100121
3. Ratna Dwi P A510100124
4. Lolyta Nur H A510100138
5. Agung Nugroho A510100142

PROGDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk myata. Dengan demikian, pengembangan kurikulum meliputi penyusunan dokumen, implementasi dokumen serta evaluai dokumen yang telah disusun.
Mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai visi dan misi sekolah yang telah ada. Dalam menganalisis desain kurikulum kita harus memperhatikan visi, misi, serta tujuan yang ada disekolah tersebut sehingga kita dapat melihat desain kurikulum yang bagaiman yang di terapkan di SD N Banyuanyar II. Dengan mengetahui desain kurikulum yang digunakan di SD N Banyuanyar II kita dapat melakukan pengembangan desain kurikulum yang telah ada sesuai dengan apa yang kita ingginkan.
Namun, kurikulum tersebut haruslah bersifat dinamis, artinya kurikulum selalu mengalami peruabahan sesuai dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat kecerdasan siswa, kultur, system nilai, serta kebutuhan masyarakat.oleh sebab itu, para pengembang kurikulum termasuk guru, harus memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang hal tersebut.
Kurikulum harus selalu dimonitoring dan dievaluasi untuk perbaikan dan penyempurnaan. Setiap kali melakukan perbaikan dan penyempurnaan kurikulum belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik karena kurikulum itu bersifat hipotesis. Maksudnya baik-tidaknya kurikulum akan dapat diketahui setelah dilaksanakan di lapangan. Perbaikan kurikulum diperlukan agar tidak lapuk ketinggalan zaman. Selain itu, taraf pendidikan guru juga mempengaruhi dalam pengembangan kurikulum yang ada. Meski demikian, pelaksana kurikulum juga harus selalu progress dalam menerima pengembangan kurikulum, sehingga mampu melaksanakan kurikulum yang ada dengan tepat sasaran.
B. Persoalan
Pada dasarnya persoalaan kurikulum yang dihadapi di SDN Banyuanyar II antara lain :
1. Standar Kompetensi guru yang belum memenuhi semuanya hanya terdapat 4 guru yang telah menempuh Strata-1 (S-1).
2. Kurangnya pengetahuan guru mengenai kurikulum dan pengembangan kurikulum.
3. Belum maksimalnya penerapan kurikulum dalam pembelajaran di kelas rendah.

C. Urgensi Persoalan
Pada dasarnya permasalahan penting dalam pelaksanaan kurikulum di SDN Banyuanyar II memiliki beberapa kendala yang menghambat pelaksanaan kurikulum KTSP tidak bisa berjalan secara maksimal. Permasalahan-permasalahan tersebut antara lain pada SDN Banyuanyar II karena masih ada beberapa guru belum mampu memenuhi standar kompetensi guru dan kurangnya pengetahuan guru mengenai kurikulum serta pengembangan kurikulum sehingga berdampak pada penerapan kurikulum dalam pembelajaran yang belum maksimal. Dengan demikian, guru yang belum memenuhi standar kompetensi guru, belum mampu menerapkan pembelajaran pada keals rendah dengan pembelajaran Tematik dikarenakan guru merasa bingung dengan adanya menggabung-gabungkan mata pelajaran ke dalam satu tema tertentu.
Pelaksanaan pembalajaran di kelas selalu diupayakan untuk bisa sesuai dengan kurikulum yang telah ada. Sekolah berusaha semaksimalnya untuk mampu memenuhi kurikulum yang ada, menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan berusaha untuk bisa mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Namun, pelaksanaan tersebut tidak selamanya berjalan lancar sesuai harapan. Setiap sekolah di Indonesia memiliki kondisi yang berbeda-beda dalam tingkat lingkungan fisik maupun dalam kehidupan sosialnya. Sehingga terkadang hal seperti ini mau tidak mau menuntut sekolah untuk berinovasi dalam pembalajaran yang tidak jarang akan mengubah sedikit dari kurikulum yang telah ada.
Untuk peningkatan kualitas guru, dapat dilaksanakan dengan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi atau memenuhi standar kompetensi, sehingga mampu menerapkan pembelajaran Tematik di kelas rendah. Namun, di sini juga terpancang pada usia guru yang mendekati pension, jadi beberapa diantaranya malas untuk meningkatkan kualitasnya agar memenuhi standar kompetensi. Selain itu, juga terpancang juga pada biaya pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hasil Wawancara (Narasumber Kepala Sekolah Sd N Banyuanyar Ii Surakarta)
Dari hasil wawancara dan observasi kami kurikulum KTSP yang dikembangkan sesuai dengan keadaan lingkungan, sosial dan sarana prasarana sekolah. Pengembangan kurlikulum KTSP disusun setiap awal tahun pelajaran dan pengembangannya dilaksanakan di sekolah. Salah satu pengembangan kurikulum di SD N Banyuanyar II adalah pengembangan pembelajaran yang berbasis pada tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor.
Aspek kognitif dikembangkan pada proses belajar mengajar terkait dengan pembelajaran pada kelas rendah dan kelas tinggi, di dalam kurikulum menerapkan pembelajaran tematik untuk kelas rendah dan pembelajaran terpadu untuk kelas tinggi. Namun dalam pelaksanaannya di dalam kelas, pembelajaran masih diberikan per mata pelajaran dikarenakan guru beranggapan bahwa penyampaian dengan memadukan beberapa mata pelajaran akan membuat siswa kebingungan dalam memahami materi.
Ini menjadi kendala dalam mengembangkan kurikulum dan proses pembelajaran karena guru di SDN Banyuanyar II yang sudah besertifikasi hanya 4 guru. Banyak guru yang masih D-2 masih menempuh strata 1 sehingga hal ini mengganggu kelancaran proses pembelajaran. Pembelajaran tematik yang bisa dipersiapkan lebih matang hanya dapat dilakukan sebisa guru dan pembelajarannya tidak dapat diterapkan secara utuh dan dilakukan per mata pelajaran sehingga tidak tercapainya pembelajaran tematik yang diharapkan pemerintah. Selain itu tidak semua guru menguasai IT sehingga menjadikan pembelajaran kurang maksimal.
Aspek afektif dikembangkan melalui kegiatan sikat gigi bersama sehabis istirahat pertama dan untuk kelas enam memlalui meningkatkan keagamaan yaitu dengan sholat dhuha bersama dengan guru dan siswa kelas 6. Selain itu diwaktu sholat dhuhur dilakukan secara bergilir dari kelas 3 sampai kelas 6 secara terjadwal. Penanaman sikap juga dilakukan pada pembelajaran di kelas seperti ketika ulangan guru memantau siswa untuk tidak kerjasama atau mencontek. Hal ini terlihat ketika kami observasi pada kelas 5 waktu ulangan IPS.
Aspek psikomotor dikembangkan melalui ekstrakurikuler. Ekstra kurikuler yang dikembangkan adalah pramuka, olah raga, dan komputer. Ekstra kurikuler pramuka dijadwalkan setiap hari Jum’at dan dilaksanakan pada sore hari dengan pembina adalah guru di SDN Banyuanyar II. Hal ini bertujuan agar siswa dapat mengenal teknik-teknik kepramukaan, belajar untuk mandiri, berani, setia dan lain-lainnya. Di ekstra kurikuler olah raga, untuk siswa yang berminat dan berbakat dibimbing oleh guru olah raga dan yang paling dikembangkan adalah permainan sepak bola dan bola voli. Selain itu ada pembimbingan siswa berbakat dilakukan dengan cara pendampingan guru yang sesuai dengan bakat siswanya. Contohnya siswa yang suka membaca puisi dibimbing oleh guru bahasa Indonesia. Terbuka siswa mampu meraih piala kejuaraan lomba-lomba.
Terkait dengan pengembangan sekolah, menurut kepala sekolah yang kami wawancarai menggunakan aturan Permendikbud No. 40 Th. 2011 Tentang Larangan Pungutan Pendidikan sehingga pihak sekolah tidak berani untuk memungut biaya atau tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keuangan kepada orang tua siswa. Untuk mencukupi biaya-biaya pengembangan sekolah yang diantaranya biaya operasional yang didanai dari dana BOS Pusat, BOS Pendamping dari Propinsi, BPNKS dari kota Surakarta. Biaya Investasi yang di dalamnya termasuk renovasi gedung dan mebeler dapat diambil dari DAK & Block grant, serta biaya personal yaitu biaya kebutuhan siswa.
Dalam menentukan KKM pihak sekolah mempertimbangkan mengenai beberapa hal, diantaranya : alokasi waktu, ruang lingkup dan kedalaman materinya. Untuk mengetahui hasil belajar siswa, diadakan test sebagai evaluasi terhadap pembelajaran yang telah dilakukan. Test yang diberikan berupa test formatif (test ulangan harian), ujian tengah semester, dan ujian akhir semester. bagi siswa yang tidak memenuhi KKM, akan diadakan program remidi. Setiap siswa diberi kesempatan mengikuti remidi selama 3 kali remidi. Apabila tidak ada peningkatan selama program remidi tersebut, siswa tidak dinaikkan ke tingkat kelas atas atau dengan kata lain tinggal kelas.

B. Analisis Desain Kurikulum Di Sd Negeri Banyuanayar Ii Surakarta
Asumsi-asumsi yang melandasi desain kurikulum yaitu tujuan pendidikan, sumber tujuan, karakteristik peserta didik, hakikat proses belajar dan tipe masyarakat yang dilayani. Selanjutnya asumsi-asumsi tersebut secara rinci akan dijabarkan dibawah ini :

1. TUJUAN
Tujuan SD N Banyuanyar II Surakarta secaaknra kontekstual bahwa membantuk siswa SD Negeri ABnyuanyar II berkahla mulai, sehat jasmani dan rohani, terampil, memiliki IPTEK, berprestasi, berdaya guna dan berhasil guna. Sedangkan tujuan desain kurikulum juga dapat dianalisis melalui visi dan misi SD Negeri Banyuanyar II Surakarta, yaitu sebagai berikut :
a. Visi Sekolah
Adapun Visi dari SD Negeri Banyuanyar II Surakarta adalah sebagai berikut :
“Berakhlak mulia menuju kompetitif dalam hasil belajar dan kelulusan yang berdasarkan iman dan taqwa.”
b. Misi Sekolah
Adapun Misi SD Negeri Banyuanyar II Surakarta adalah sebagai berikut :
1) Mengembangkan pembelajaran yang berkesinambungan secara aktif, kreatif, efektif, efisien dan menyenangkan.
2) Menumbuh kembangkan siswa sesuai dengan umurnya.
3) Mengembangkan siswa untuk memiliki IPTEK yang berdasarkan iman dan taqwa.
4) Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kegiatan sekolah.
Dari visi dan misi SD Negeri Banyuanyar II dapat dilihat bahwa desain kurikulum mengacu pada tiga pengembangan aspek yaitu aspek kognitif yang dibuktikan dengan visi yang tertulis yaitu unggul dalam prestasi menunjukkan bahwa SD tersebut mempunyai cita-cita agar semua peserta didik yang masuk ke sekolah tersebut akan memiliki prestasi yang unggul. Komponen sekolah yang bertugas mengembangkan kurikulum bertanggung jawab untuk merealisasikan visi yang telah disepakati.
Aspek afektif ditunjukkan dengan visi luhur dalam budi pekerti, santun dalam perilau, berakhlak mulia berdasarkan iman dan takwa. Dari visi tersebut SD mempunyai cita-cita bahwa semua peserta didik yang masuk ke sekolah tersebut akan memiliki sifat-sifat yang terpuji berdasarkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Visi dan misi ini terealisasi dengan baik sesuai dengan hasil wawancara kami dengan kepala sekolah bahwa anak terbiasa untuk menyikat gigi bersama setelah istirahat pertama dan melaksanakan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah.
Aspek psikomotor terlihat juga pada misi menumbuh kembangkan siswa sesuai dengan umurnya dan menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah dan kelompok kegiatan sekolah. Melalui misi tersebut, SD dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah disesuaikan dengan perkembangan peserta didik. Misi tersebut terealisasi melalui kegiatan ekstrakurikuler. Ekstra kurikuler yang dikembangkan adalah pramuka, olah raga, dan komputer.

2. CIRI-CIRI
Kurikulum KTSP memiliki beberapa karakteristik yang tidak lepas dari karakteristik, Dari hasil wawancara dan observasi yang kami lakukan dapat kita simpulkan bahwa kurikulum yang digunakan memiliki cirri-ciri diantaranya adalah :
a. Adanya hubungan yang harmonis antara guru dan siswa.
Untuk membangun suasana belajar yang baik, hubungan antara guru dan siswa harus pula dibangun seharmonis mungkin, sehingga guru tidak terkesan menakutkan, karena pengaruh psikis sangat mempengaruhi daya tangkap siswa dalam belajar, jika kita lihat fenomena pembelajaran disekolah, ada istilah guru killer ataupun dosen killer, ini merupakan bukti bahwa ternyata masih ada dalam proses pembelajaran yang mana guru atau dosen yang ditakuti oleh para siswa atau mahasiswa, dan berimplikasi terhadap daya tangkap siswa.
b. Proses pembelajaran sudah melaksanakan model “PAKEM” atau Active Leaarning.
Setiap siswa memiliki keunikan dan karakteristik tersendiri, oleh sebab itu hendaknya pembelajaran yang dilakukan dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan siswa. Untuk itu pembelajaran harus dikemas dengan menarik dan dapat mencukupi kebutuhan siswa sesuai dengan karakteristiknya. Agar pembelajaran dapat merata dan menarik siswa untuk berpartisipasi, maka sekolah perlu untuk merencanakan sebuah model pembelajaran yang dapat mengemas proses belajar siswa menjadi sangat menyenangkan yang salah satunya dapat dilakukan dengan model PAKEM. Dengan pembelajaran yang PAKEM, pendidik dapat menyusun strategi mana yang tepat untuk digunakan sesuai dengan materi yang dibelajarkan.
c. Menggunakan pembelajaran tematik dan terpadu.
Pembelajaran pada kelas rendah sudah melaksanakan pembelajaran tematik, begitu juga pada kelas tinggi menggunakan pembelajaran terpadu. Tetapi dalam pelaksanaannya, pembelajaran masih dilaksanakan per mata pelajaran.
d. Pengembangan peserta didik disesuaikan dengan minat dan bakat.
Minat dan bakat yang dimiliki oleh peserta didik perlu untuk disalurkan guna menggali dan mengasah potensi yang dimiliki. Oleh sebab itu sekolah perlu mengadakan kegiatan-kegiatan di luar jam sekolah atau ekstrakurikuler yang dapat dijadikan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki peserta didik tersebut. Kegiatan tersebut berupa pramuka, olahraga, dll. Selain itu perlu juga dilakukan program pembimbingan siswa berbakat yang disesuaikan dengan minat dan bakat siswa dan dilakukan oleh guru yang sesuai dengan bidangnya.
e. Integralistik
Maksudnya adalah dalam kurikulum humanistik menekankan kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual ( Kognitif) tetapi juga emosional dan tindakan, ini merupakan komitmen dari pendidikan humanis yang mana berupaya untuk mengembalikan pendidikan kepada realitas sosial.
f. Totalitas
Maksudnya adalah kurikulum humanistik harus mampu memberikan pengalaman yang menyeluruh ( totalitas ) , bukan terpenggal – penggal ( parsial )
g. Model evaluasi tidak ada kriteria pencapaian.
Seperti yang dijelaskan diatas bahwa kurikulum menekankan totalitas, oleh karena itu dalam model evaluasi yang dilakukan tidak ada kriteria pencapaian, karena kurikulum ini lebih menekankan proses bukan hasil, jika kita melihat fenomena UNAS dalam pendidikan kita di Indonesia, kriteria pencapaian yang diformat dalam UNAS sangat tidak humanis, karena hanya menitik beratkan kepada aspek kognitif sehingga keberhasilan pendidikan hanya di nilai dari angka bukan sikap, walaupun dalam KTSP format penilaian menggunakan aspek sikap. Tentunnya hal ini bertentangan dengan pendidikan humanis yang berorientasi terhadap pengembangan potensi manusia.

3. KOMPONEN-KOMPONEN
Kurikulum KTSP yang dikembangkan oleh SD Negeri Banyuanyar II terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut :
a. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai melalui kegiatan pembelajaran disekolah baik dalam jam pelajaran maupun di luar jam pelajaran selain mengembangkan pada aspek kognitif, sekolah juga menekankan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian atau karakter. Dengan diadakannya pembelajaran tersebut, sekolah memiliki tujuan membentuk siswa yang berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, terampil, memiliki IPTEK, berprestasi, berdaya guna dan berhasil guna.
b. Materi
Adapun cakupan materi atau kelompok materi yang terdapat dalam kurikulum SD Negeri Banyuanyar II adalah Agama dan Akhlak mulia, Kewarganegaraan dan Kepribadian, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Estetika, Jasmani, Olahraga dan Kesehatan. Selain itu didalam muatan kurikulum juga termasuk kegiatan pengembangan diri yang meliputi kegiatan ekstrakurikuler, kegiatan pembiasaan, kegiatan keteladanan, kegiatan nasionalisme dan patriotisme serta pembinaan dan bimbingan. Baik kelompok mata pelajaran maupun kegiatan pengembangan diri tersebut semuanya mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
c. Proses Pembelajaran
Pembelajaran yang dilaksanakan
d. Evaluasi
Evaluasi yang lakukan oleh SD Negeri Banyuanyar II sudah ditetapkan pada tabel kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penilaian yang tercantum dalam KKM hanya berorientasi pada aspek kognitif saja.

4. KELEBIHAN
Kurikulum KTSP yang dikembangkan SD Negeri Banyuanyar II memiliki kelebihan sebagai berikut :
a. Menggunakan pembelajaran PAKEM
Sekolah sudah menggunakan active learning sehingga keaktifan siswa akan terfasilitasi dan siswa akan dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
b. Mengembangkan sikap kristis siswa
Dengan adanya pembelajaran PAKEM yang dilaksanakan oleh sekolah akan menumbuhkan sikap kritis siswa terhadap fenomena-fenomena yang ada. Siswa akan mampu berfikir rasional dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dengan bahasa sendiri.
c. Pelaksanaan Kurikulum
Kurikulum yang digunakan SD Negeri Banyuanyar II sudah terlaksana dengan baik yang mencakup tentang standar isi, standar proses, standar kompetensi, standar pendidikan dan tenaga kependidikan,kompetensi dasar pendidik, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian.
d. Kurikulum dapat dievaluasi
Kurikulum yang telah dilaksanakan dapat di ukur dan dievaluasi sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum selanjutnya.

5. KEKURANGAN
a. Sulit dilakukan, dipengaruhi pengalaman individual secara total, sulit melihat dampaknya, dan tak ada dukungan publik.
Pelaksanaan pembelajaran PAKEM sulit untuk dterapkan secara optimal karena banyaknya kharakteristik siswa yang berbeda-beda sehingga kebutuhan akan belajar mereka juga berbeda pula. Hal ini sedikit menyulitkan guru dalam merancang pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa. Selain itu, guru belum mampu menyusun sendiri silabus secara keseluruhan.
b. Kurang dukungan publik
Orang tua atau wali murid kurang mendukung dalam proses pengembangan kurikulum.
c. Standar pembiayaan serta Sarana dan Prasarana
Sekolah belum mampu mencukupi kebutuhan yang diperlukan sekolah. Perpustakaan dan lab komputer belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh sekolah.
d. Penilaian
Penilaian masih berorientasi pada aspek kognitif.

6. FILOSOFI
Pengembanan kurikulum perlu menentukan filosofi tertentu untuk menyelaras berbagai kepentingan sesuai harapan masyarakat. Masyarakat sekarang menuntut standarr kualitas yang tinggi dalam pendidikan. Standar ini mencakupi kompetensi yang seimbang dalam kecerdasan atau logika, moral dan akhlak mulia atau etika, seni dan keindahan estetika, serta kekuatan dan kesehatan jasmani atau kinestetika.
Di SD Negeri Banyuanar II dalam pengembangan kurikulumnya berdasarkan dari filosofi Progressivisme. Di mana filosofi Progressivisme ini menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada siswa, variasi pengalaman belajar, dan proses. Progressivisme merupakan landasan filosofis bagi pengembanganbelajar aktif.
Dalam proses pembelajaran di SD Negeri Banyuanyar II ini telah menggunakan pendekatan active learning di mana siswa aktif berpartisipasi dalam proses pembelajaran, hal ini dapat dilihat dari RPP yang menuliskan metode-metode pembelajaran berbasis active learning. Sehingga, dalam proses pembelajarannya pun, guru hanya sebagai fasilitator serta guru juga mempertimbangkan perbedaan potensi individu yang mereka miliki.
Selain itu sekolah ini juga menganut filosofi Essenstialisme. Essentiallism menentukan pentingnya pewarisan budaya pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sanis danmata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar subtansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.
Essentiallism menekankan pada individu sebagai sumber pegetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri, tentang bagaimana saya hidup di dunia dan apakah pengalaman itu. Hal ini dapat dilihat dari beban belajar pada SBK dan PenjasOrKes memiliki alokasi waktu yang sama banyak dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Dengan menggabungkan dua filosofi ini,, diharapkan sekolah ini mampu mencapai visi dan misi sekolah serta tujuan pendidikan.

7. TEORI BELAJAR
Kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu.
Berdasarkan hasil analisis dari kurikulum SD Negeri Banyuanyar II, maka dapat diketahui bahwa Sekolah ini menggunakan Teori Pendidikan Pribadi, Teknologi pembelajaran dan teoeri pembelajaran interaksionalisme. Di mana dalam proses pembelajaran siswa lebih berperan aktif dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Namun, tetap ada interaksi social antara siswa, guru, dan lingkungan sekitar, baik lingkungan sekolah, rumah, maupun lingkungan masyarakat.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, maka 3 Teori Pendidikan tersebut, yaitu
1. Teori pendidikan pribadi, dimana dalam teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Proses aktualisasi diri dengan mengembangkan potensi-potensi yang dimililki peserta didik melalui kegiatan ekstrakulikuler seperti pramuka dan komputer. Dalam pembelajaranya berpusat student centered (siswa dituntut untuk lebih aktif), guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, dan pelayan bagi peserta didik.
2. Teori teknologi pendidikan
Dalam teori pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus, berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual.
3. Teori Pendidikan Interaksional
Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru. Ada hubungan timbal balik, komunikatif antara guru dan peserta didik.

8. MODEL PEMBELAJARAN
Model Pembelajaran yang digunakan di Sekolah tersebut berdasarkan analisis dari kurikulum yang telah dikembangkan adalah model pembelajaran proses informasi, model pembelajaran behaviouristik, dan model pembelajaran humanistic.
Dalam kurikulum tersebut dapat dianalisis sebagai berikut:
1. Model Pembelajaran Informasi
Dalam model pembelajaran ini, menunjukkan bahwa ada transformasi informasi dari guru ke siswa dan sebaliknya. Model pemrosesan informasi ditekankan pada pengambilan, penguasaan, dan pemrosesan informasi. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik.
2. Model Pembelajaran Behaviouristik
Model pembelajaran ini lebih menekankan pada perubahan perilaku pada siswa. Model behavioral menekankan pada perubahan perilaku yang tampak dari peserta ddik sehingga konsisten dengan konsep dirinya. Sebagai bagian dari teori stimulus-respon, model behaviorial menekankan bahwa tugas-tugas harus diberikan dalam suatu rangkaian yang kecil, berurutan, dan mengandung perilaku tertentu.
3. Model Pembelajaran Humanistik
Pada model pembelajaran ini, guru berperan sebagai panutan atau contoh, sehingga nantinya dapat dicontoh oleh peserta didik. Humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif.
Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanisme.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk myata. Dengan demikian, pengembangan kurikulum meliputi penyusunan dokumen, implementasi dokumen serta evaluai dokumen yang telah disusun.
Mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai visi dan misi sekolah yang telah ada. Dalam menganalisis desain kurikulum kita harus memperhatikan visi, misi, serta tujuan yang ada disekolah tersebut sehingga kita dapat melihat desain kurikulum yang bagaiman yang di terapkan di SD N Banyuanyar II. Dengan mengetahui desain kurikulum yang digunakan di SD N Banyuanyar II kita dapat melakukan pengembangan desain kurikulum yang telah ada sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Telah dipaparkan dengan terkait kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan SD Negeri Banyuanyar II merupakan gambaran bahwa sekolah tersebut mempunyai wewenang sekolah dalam menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan tuntuan kebutuhan siswa. Perkembangan kurikulum tergambarkan dengan jelas pada lampiran KTSP SD tersebut. Dari analisis kami bahwa pengembangan kurikulum SD Negeri Banyuanyar II lebih dominan menggunakan pengembangan kurikulum yaitu kurikulum humanistik dengan ciri-ciri yang diungkapkan pada bab pembahasan. Bukan hanya pengembangan kurikulum humanistik, karena pada kelas rendah terdapat ciri-ciri pengembangan kurikulum subject matter. Pengembangan diri dan keteladanan yang dicontohkan guru merupakan ciri umum humanistik yang berbasis pada filosofi progresivisme dan esensialisme. Sehingga model pembelajaran yang berkembang di SD tersebut adalah proses informasi, pembelajaran yang berpusat pada guru atau bersifat teacher centered.
B. Saran
Dari pembahasan dan analisis, penulis menyarankan agar pengembangan kurikulum mampu diterapkan dalm proses pembelajaran sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai setelah diadakannya evaluasi pendidikan. Untuk itu perlu adanya peningkatan kualiatas guru agar memenuhi semua standar kompetensi guru dan mampu menerapkan pembelajaran Tematik pada kelas rendah.

DAFTAR PUSTAKA

http://makalahmeza.blogspot.com/2012/04/aliran-filsafat-pendidikan.html. diakses pada Sabtu, 13 Oktober 2012, 14.23

Nana S.S. Pengembangan kurikulum .Jakarta: Rosda

Anik Gufron. 2011. filsafat, teori pendidikan dan teori belajar .http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/handout%20-%20FILSAFAT,%20TEORI%20PEND%20&%20TEORI%20BELAJAR.pdf. diakses pada Sabtu, 13 Oktober 2012, 14.10

Anonym. 2011. mcdens13.wordpress.com/2012/06/21/teori-pendidikan

Anonim. Pentingan Kurikulum dalam Pendidikan. http://id.scribd.com/doc/73729796/pentingnya-kurikulum-dalam-pendidikan-Riswanto-Lago

Akhmad Sudrajat.2008. Hubungan Teori Pendidikan dengan Kurikulum. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/teori-pendidikan-dan-kurikulum/ diakses pada Sabtu, 13 Oktober 2012, 14.00

Zainla arifin. 2012. KOnsep dan model pengembangan kurikulum. Bandung: PT. remaja Rosda Karya.